Idik yang terkenal memiliki karakter
kerja sangat rapi dan teliti, lalu mempersiapkan konsep pelatihan dengan
sempurna, baik dalam bidang fisik, mental, maupun spiritual. Latihan
yang merupakan derivasi dari konsep Kepanduan itu diberi nama ”Latihan
Pandu Ibu Indonesia Ber-Pancasila”.Setelah melengkapi silabus latihan
dengan berbagai atribut dan pakaian seragam, pada tahun 1973 Idik
Sulaeman melontarkan suatu gagasan baru kepada Mutahar. ”Bagaimana kalau
pasukan pengibar bendera pusaka kita beri nama baru,” katanya.Mutahar
yang tak lain mantan pembina penegak Idik di Gerakan Pramuka
menganggukkankepala. Maka,kemudian meluncur lah sebuah nama antik
berbentuk akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertamakali
menyebutnya.Akronim itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan singkatan dari
Pasukan PengibarBendera Pusaka.”Pas” berasal dari kata pasukan,”kib”
dari kata kibar, ”ra” dari kata bendera dan ”ka” dari kata pusaka.
Dari Seragam Sampai Lambang
read more “pengenalan Atribut Paskibraka ”
Pada tahun 1973, Idik Sulaeman melahirkan nama Pasukan Pengibar Bendera
Pusaka (Paskibraka). Bukan itu saja, Idik juga menciptakan seluruh
atribut yang sampai sekarang dapat dilihat dalam seragam Paskibraka.
Atribut itu mulai dari pakaian seragamnya sendiri, sampai Lambang
Anggota Paskibraka, Lambang Korps Paskibraka dan Tanda Pengukuhan.
Sebelum tahun 1973, Paskibraka tidak mempunyai Lambang Anggota maupun
Lambang Korps yang dapat dibanggakan. Berikut ini penjelasan tentang
bentuk dan makna setiap atribut Bentuk Seragam Sejak semula saat dimulai
membentuk pasukan percobaan penggerek Bendera Pusaka tahun 1967,
pakaian seragam pasukan ini ditetapkan putih-putih, sedangkan
warna merahnya hanya digunakan sebagai aksen berupa kacu penutup leher
bagian depan seperti biasa digunakan prajurit ABRI/TNI kalau menggunakan
seragam lapangan upacara.Warna putih dipilih sebagai makna kesucian
dalam melaksanakan tugas pokok mengibarkan dan menurunkan Bendera Pusaka
Merah Putih. Sebelum tahun 1981, model pakaian seragam Paskibraka cukup
sederhana, dan masih tampak penonjolan keremajaannya: Putra dengan
kemeja putih lengan panjang yang bagian bawahnya dimasukkan ke celana
panjang putih dengan ikat pinggang juga berwarna putih; Putri dengan
kemeja lengan panjang dengan bagian bawah model jas. Tetapi setelah
tahun 1981 dan seterusnya sampai sekarang, dengan alasan disamakan
modelnya dengan seragam ABRI/TNI dari BENTUK SERAGAM kelompok
45/pengawal, seragamPaskibraka mengalami perubahan. Paskibraka putra
menggunakan kemeja model jas dengan gesper lebar dari kain, sementara
Paskibraka putri tidak
berubah. Dengan tampilan baru ini, Paskibraka memang kehilangan penampilan remajanya dan terlihat seperti orang dewasa.
Lambang anggota Paskibraka
Lambang anggota Paskibraka adalah Teratai setangkai bunga teratai yang
mulai mekar dan dikelilingi oleh sebuah gelang rantai, yang mata
rantainya berbentuk bulat dan belah ketupat. Mata rantai bulat berjumlah
16, begitu pula mata rantai belah ketupat. Bunga teratai yang tumbuh
dari lumpur (tanah) dan berkembang di atas permukaan air bermakna bahwa
Anggota Paskibraka adalah pemuda yang tumbuh dari bawah (orang biasa),
dari tanah air yang sedang berkembang (mekar) dan membangun. Tiga helai
kelopak bunga tumbuh ke atas bermakna “belajar, bekerja dan berbakti”,
sedang tiga helai kelopak ke arah mendatar bermakna “aktif, disiplin dan
gembira”. Mata rantai yang saling berkaitan melambangkan persaudaraan
yang akrab antar sesama generasi muda Indonesia yang ada di berbagai
pelosok (16 penjuru angin) tanah air. Rantai persaudaraan tanpa
memandang asal suku, agama, status sosial dan golongan akan membentuk
jalinan mata rantai persaudaraan sebangsa yang kokoh dan kuat, sehingga
mampu menangkal bentuk pengaruh dari luar dan memperkuat ketahanan
nasional, melalui jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan yang telah
tertanam dalam dada setiap anggota Paskibraka. Untuk mempersatukan
korps, Paskibraka di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota
ditandai dengan Lambang Korps yang sama. Untuk tingkat provinsi dan
kabupaten/kota, Lambang Korps harus ditambahi dengan tanda lokasi
terbentuknya pasukan. Sebelum tahun 1973, Lambang Korps Penggerek
Bendera berupa lencana berbentuk perisai dari bahan logam kuningan
dengan gambar sangat sederhana: di tengah bulatan terdapat bendera merah
putih dan di luar lingkaran terpampang tulisan “PASUKAN PENGEREK
BENDERA PUSAKA”
Lambang Korps
Sejak 1973 sampai sekarang, Lambang Korps Paskibraka dibuat dari kain
bergambar atau bordir yang langsung dijahitkan di lengan kanan seragam.
Bentuknya perisai berwarna hitam dengan garis pinggir dan huruf berwarna
kuning yang bertuliskan ”PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA” dan tahun
pembentukan pasukan (di ujung bawah perisai). Di dalam perisai terdapat
lingkaran bergambar sepasang anggota Paskibraka dilatarbelakangi bendera
merah putih yang berkibar ditiup angin dan tiga garis horison atau
awan. Makna dari bentuk dan gambar Lambang Korps Paskibraka adalah
sebagai berikut:
- Bentuk perisai bermakna "siap bela negara" termasuk bangsa dan tanah air Indonesia, warna hitam bermakna teguh dan percaya diri.
- Sepasang anggota Paskibraka bermakna Paskibraka terdiri dari anggota putra dan anggota putri yang dengan keteguhan hati bertekad untuk mengabdi dan berkarya bagi pembangunan Indonesia.
- Bendera Merah Putih yang sedang berkibar adalah bendera kebangsaan dan utama Indonesia yang harus dijunjung tinggi seluruh bangsa Indonesia termasuk generasi mudanya, termasuk Paskibraka.
- Garis horison atau awan tiga garis menunjukkan ada Paskibraka di tiga tingkat, yaitu nasional, provinsi dan kabupaten/kota.
- Warna kuning berarti kebanggaan, keteladanan dalam hal perilaku dan sikap setiap anggota Paskibraka.
Tanda Pengukuhan
Sebagai tanda berakhirnya Latihan Kepemimpinan Pemuda
Tingkat Perintis/Pemuka (sebagaimana juga berakhirnya Latihan
Kepemimpinan Pemuda/Kepemudaan tingkat lain) setiap peserta dikukuhkan
oleh Penanggungjawab Latihan dengan pengucapan ”Ikrar Putera
Indonesia” sambil memegang Sang Merah Putih dan kemudian
menciumnya dengan menarik nafas panjang sebagai "kiasan" kesediaan
untuk senantiasa setia dan membelanya. Tanda pengukuhan berupa
kendit atau pita/sabuk dibuat dari kain. Kendit adalah tanda ksatria
pada zaman dahulu yang mengikrarkan kesetiaannya kepada kerajaan.
Sebagai pemegang kendit, para peserta latihan pun diharapkan memiliki
sifat ksatria dalam pemikiran, perkataan dan perbuatannya seharihari.
Awalnya, pada latihan untuk Pasukan pertama sampai keempat (1968–1971)
kendit Tanda Pengukuhan masih polos dengan dua warna, masing-masing
hijau untuk anggota pasukan dan ungu untuk para penatar/ pembina. Karena
kendit warna polos menyerupai sabuk kecakapan olahraga beladiri, maka
oleh Idik Sulaeman disempurnakan menjadikendit bermotif. Motif tersebut
berupa gambar rantai bulat dan belah ketupat seperti pada Lambang
Anggota, dengan jumlah masing-masing 17 untuk rantai bulat dan rantai
belah ketupat. Setiap mata rantai bulat maupun belah ketupat diisi
dengan huruf yang membentuk kalimat ”PANDU INDONESIA BER-PANCASILA”.
Semula, ukuran lebar dan panjang kendit adalah 5 cm dan 17 dm, untuk
melambangkan angka tanggal 17 (dari 17Agustus 1945) dan 5(jumlah sila
dalam Pancasila).Namun, karena kesulitan teknik pencetakan\ motifnya,
ukuran kendit baru dengan motif rantai dan huruf diubah menjadi lebar 5
cm dan panjang 14 dm (140 cm). Tanda pengukuhan berupa lencana digunakan
untuk pemakaian harian. Sebelum 1973, lencana ini hanya berupa merah
putih —tanpa gambar garuda— dengan ukuran tinggi 2 cm dan panjang 3 cm.
Lencana yang dipakai sejak 1973 sampai saat ini berbentuk persegi
berukuran tinggi 1,8 cm dan panjang 4 cm,dengan tanda merah-putih di
sebelah kanan dan Garuda di sebelah kiri (dilihat dari sisi pemakainya,
bukan dari depan). Ukuran lencana untuk Penatar (warna ungu) sedikit
lebih kecil, yakni tinggi 1,5 cm dan panjang 3,5 cm. Warna dasar di
belakang Garuda disesuaikandengan jenis latihannya, atau dengan kata
lain sama dengan warna dasar kenditnya. l Warna hijau untuk Latihan
Perintis/Pemula Pemuda l Warna merah untuk Latihan Pemuka Pemuda l Warna
coklat untuk Latihan Penuntun Pemuda l Warna kuning untuk Latihan
Pendamping Pemuda l Warna ungu untuk Latihan Penatar Kepemudaan l Warna
abu-abu untuk Latihan Penaya Kepemudaan Kedua Tanda Pengukuhan,
digunakan dengan ketentuan yang berbeda. Lencana pengukuhan dikenakan
pada baju setinggi dada sebelah kiri (di atas saku kiri baju), baik pada
seragam maupun baju biasa sehari-hari. Sedangkan kendit, dililitkan ke
pinggang dan disimpulmatikan di bagian depan (perut) dan hanya dikenakan
saat menghadiri upacara pengukuhan, tidak untuk sehari-hari.
